DEBAT ISU EKONOMI NASIONAL 2018

Peningkatan Peran Pemuda dalam Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Guna Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Berkelanjutan

Call for Essay PPKTI 2018

Ideku untuk Negeri Tercinta

Buka Bersama dan Silatponi

Rajut Ukhuwah Aktivis Kampus dalam Balutan Bulan Ramadhan Bersama DPO dan Alumni KRISTAL

INNOVATION CONTEST 2018

KRISTAL Sukses Mewadahi Inovasi dan Kreativitas Mahasiswa Indonesia

Sabtu, 31 Maret 2018

Learn Design, And Realize Your Dream


MEDIA CLUB 2018
Learn Design, And Realize Your Dream 

Pada hari Jumat (16/03/2018) telah dilaksanakan acara Media Club 2018 yang merupakan salah satu program kerja rutin setiap tahun dari departemen Hubungan Informasi UKMF Penelitian KRISTAL. Acara tersebut diadakan di Ruang Ramah Tamah Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
Media club merupakan suatu bentuk kegiatan pelatihan internal pengurus UKMF Penelitian KRISTAL dalam bidang media desain grafis guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mengenai teknologi informasi untuk para pengurus itu sendiri. Kegiatan Media Club 2018 ini mengambil tema “Learn design, and Realize your dream” dengan Fransiscus Vio Wijaya selaku pembicara untuk materi pembuatan poster ilmiah dengan CorelDraw dan Fajar Indra Prasetyo selaku pembicara materi pembuatan PowerPoint.
Acara Media Club ini dimulai dengan bacaan doa yang dipimpin dari pembawa acara yaitu Dina Faizah dan Ariyanti Rita Damayanti. Acara selanjutnya adalah sambutan dari Ketua Panitia Media Club yaitu Luthfan Fadhila yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua UKMF Penelitian KRISTAL yaitu Gea Octaviani.
Acara selanjutnya adalah penyampaian materi pertama oleh Saudara Fransiscus Vio Wijaya mengenai pembuatan poster imliah menggunakan aplikasi CorelDraw. Pada kesempatan ini disampaikan bagaimana membuat poster yang menaik yang akan diikutkan dalam sebuah lomba. Materi yang disampaikan  mulai dari pemilihan background sampai penambahan bentuk-bentuk yang cukup rumit pada poster. Materi yang disampaikan sangat bermanfaat dan pemateri mengajarkan kepada para pengurus tahap-tahap untuk membuat poster secara detail.
Selanjutnya adalah penyampaian materi dari Saudara Fajar Indra Prasetyo mengenai pembuatan PowerPoint  yang menarik untuk mendukung kemampuan kita dalam melakukan presentasi untuk sebuah lomba. Disampaikan berbagai cara membuat PowerPoint yang menarik misalnya dengan membuatnya menjadi mirip sebuah video dengan menggunakan berbagai tools yang selama ini belum banyak orang yang tahu. Tampilan ini membuat orang akan beranggapan bahwa kita memutarkan sebuah video padahal hal tersebuat adalah tampilan slide presentasi yang dibuat sedemikian rupa hingga mirip sebuah video. Selain itu dalam pembuatan PowerPoint juga dapat menggunakan bantuan dari aplikasi lain seperti CorelDraw. Dalam hal ini ditegaskan bahwa PowerPoint yang menarik sangat mendukung kita dalam melakukan presentasi.
Setelah semua pemateri selesai, maka acara dilanjutkan dengan Sosialisai SOP yang merupakan panduan dalam berorganisasi dari Sekretaris UKMF KRISTAL oleh Saudari Novita Nurbaiti. Setelah itu acara ditutup dengan penyerahan kenangdoa bersama.
Diadakannya kegiatan Media Club ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan para pengurus UKMF KRISTAL terutama untuk anggota baru dalam menggunakan media untuk menciptakan suatu karya yang dapat bermanfaat di kemudian hari terutama dalam pembuatan poster dan PowerPoint.



Share:

Selasa, 20 Maret 2018

Mengulas Kembali UU MD 3


Diskusi Publik Mahasiswa (DIKMA) #2

“Mengulas Kembali UU MD 3”


UU MD 3 resmi berlaku mulai Kamis, 15 Maret 2018 meski tanpa tanda tangan dari Presiden Jokowi. Presiden juga mengumumkan tidak akan mengeluarkan Perpu, beliau meminta masyarakat untuk mengajukan uji UU kepada Mahkamah Konstitusi apabila merasa kurang setuju dengan isi revisi UU MD 3.
Munculnya revisi UU ini menimbulkan banyak pro dan kontra, mulai dari waktu pengesahan UU MD 3 oleh DPR dalam waktu yang sangat singkat, hingga konten dalam UU tersebut yang kontroversial. Terdapat tiga pasal yang menimbulkan banyak reaksi masyarakat, yaitu pasal 73 mengenai kewajiban Kepolisian melaksanakan pemanggilan paksa jika diminta DPR, pasal 122 huruf k mengenai penyampaian kritik yang melecehkan DPR akan dikenakan sanksi pidana, dan pasal 245 mengenai pemanggilan DPR apabila terkena kasus harus melalui pertimbangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan disetujui secara tertulis oleh presiden. Selain itu, muncul pula anggapan adanya penguatan imunitas DPR. Setujukah Anda dengan anggapan tersebut?
Jika ditinjau lebih jauh lagi, munculnya UU MD 3 bermula dari tertangkapnya ketua DPR Setya Novanto. Berbagai reaksi masyarakat muncul dalam menanggapi kasus ini dari mulai berlomba menghakimi di sosial media , menjelek-jelekkan Setya Novanto dan DPR secara bebas, dan juga bermunculan meme-meme yang merendahkan DPR. Anggapan masyarakat terhadap DPR cenderung ke arah negatif, sehingga muncul rasa ketidakpercayaan pada wakil yang dipilihnya sendiri. Sebenarnya jika ditelusuri, kesalahan ini dimulai dari pemilu. Masyarakat tidak memilih dengan benar wakil-wakilnya yang duduk di kursi DPR, banyak yang asal milih, dan bahkan tidak mengenal wakil yang dipilihnya. Jika dilihat dari pemberitaan di televisi, DPR justru banyak disoroti karena kasus-kasus negatifnya bukan kinerja baik yang telah dilakukan. Dalam tulisan ini kami melihat dari berbagai sudut pandang, mengenai pro dan kontra UU MD 3.
Sebenarnya sebelum adanya revisi UU MD 3, imunitas terhadap DPR mengenai pengkritikan sudah ada dalam UU. Namun demikian, aturan tersebut belum diatur dengan jelas. Melalui revisi UU MD 3 ini, DPR bermaksud memperjelas sanksi terhadap masyarakat yang memberikan kritik yang mengarahkan pada pelecehan kepada DPR. Saat ini kebanyakan masyarakat mengasumsikan DPR itu buruk sehingga masyarakat merasa tidak setuju dengan adanya revisi UU MD 3 ini. Namun demikian, apabila DPR kita yang saat ini menduduki jabatan sebagai wakil kita memang orang-orang baik dan benar-benar membela rakyat, maka adanya UU MD 3 membuat mereka lebih kuat dan lebih bisa menyampaikan aspirasi rakyat.
Dalam UU MD 3 sebenarnya tidak ada yang salah karena DPR hanya mnginginkan masyarakat tidak menghina profesinya. Mengenai pasal 245 tentang adanya MKD dalam proses pemanggilan DPR tidak menghalang-halangi penyidikan karena wewenang MKD hanya sebagai pemberi pertimbangan. Dilihat dari tanggungjawab DPR sebagai perwakilan masyarakat yang ada di dalam pemerintahan, maka memang perlu adanya penguatan wewenang. Peran DPR adalah penyampai aspirasi rakyat. Contoh saja mengenai penetapan APBN, tanpa DPR pemerintah dapat melakukan penganggaran yang tidak sesuai.
Jika dilihat dari penyampaian kritik, DPR dalam membuat kebijakan pasti terdapat unsur politik. Masyarakat pun sama, sangat dimungkinkan penyampaian pendapatnya diboncengi kepentingan politik. Opsi lain dalam melakukan kritik yaitu memang ingin mengkritik yang membangun atau hanya ikut-ikutan saja. Untuk itu diperlukan aturan tegas agar penyampaian kritik dilakukan secara baik dan benar-benar membangun.
Selain tanggapan di atas, terdapat pula banyak kontra terhadap isi UU MD 3. Jika DPR justru sulit dikritik, maka bagaimana cara membangun kebijakan-kebijakan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan serta keadaan masyarakat? Seharusnya DPR terbuka terhadap kritik yang membangun dan melakukan banyak pengkajian untuk menetapkan suatu aturan. Menurut banyak pihak, UU MD 3 yang membuat DPR kebal terhadap kritik, padahal kritik merupakan salah satu bentuk kontrol terhadap kinerja DPR. Penyampaian pendapat juga merupakan hak setia warga negara yang sebagaimana diatur dalam UUD 1945 pasal 28.
Kontroversi yang menjadi soreotan masyarakat lainnya yaitu dalam pasal 245 mengenai mekanisme pemanggilan anggota DPR oleh penegak hukum harus mendapat persetujuan DPR dengan sebelumnya mendapat pertimbangan dari MKD. Hal ini memicu ketidak transparan, seakan-akan pasal ini melindungi DPR karena pemanggilan DPR harus dengan persetujuan MKD. Sedangkan MKD sendiri memiliki fungsi hanya sebagai penasihat di lingkungan DPR, anggota MKD pun juga berisi para DPR. Contoh jika KPK ingin memanggil salah seorang anggota DPR maka akan kesulitan dan ini akan menghambat kinerja KPK karena harus melalui MKD dan disetujui presiden. Pasal lain yang menjadi polemik yaitu pasal 73 ayat 4 huruf d, yang mengatur kepolisian harus menuruti perintah DPR mengenai pemanggilan secara paksa, itu menyalahi aturan.
Sesuatu yang unik mengenai UU MD 3 yaitu penetapan persetujuan UU ini yang sangat cepat. Hanya memerlukan tujuh jam dalam sidang paripurna DPR dan UU ini telah disetujui. Padahal untuk pengesahan UU lain memerlukan waktu yang lama.  Terdapat banyak tanggapan mengenai fakta cepat diputuskannya UU MD 3, yaitu disebabkan karena gejolak mengenai DPR semakin tinggi setelah tertangkapnya Setya Novanto, kehormatan DPR tidak diperdulikan lagi, serta hujatan-hujatan sangat cepat bermunculan melalui sosial media. Jika tidak cepat diatasi maka hal ini akan mengguncang persatuan Indonesia. Disisi lain cepatnya UU ini disahkan merupakan indikasi keingainan DPR agar kebal terhadap kririk. Mengapa untuk masalah yang sebenarnya tidak terlalu urgent UU sangat cepat diputuskan tanpa pengkajian lebih lanjut? Bahkan dimungkinkan peristiwa ini hanya masalah perseorangan. Tetapi untuk UU yang urgent seperti terorisme justru diputuskan sangat lama.

Simpulan:
Sebenarnya permasalah MD 3 yaitu pada pemahaman mengenai kata ‘kehormatan’ dan batasan mengenai mana yang disebut kritik melecehkan dan mana yang disebut kritik membangun. Perlu adanya pembahasan dan pengkajian lebih lanjut mengenai persamaan persepsi kata kehormatan dan batasan-batasan dalam menyampaikan kritik. Selain itu, alangkah lebih baik jika mulai saat ini masyarakat lebih selektif dalam memilih wakilnya di kursi DPR, serta lebih bijak dalam menyampaikan kritik maupun aspirasinya dalam sosial media.

Share:

Senin, 12 Maret 2018

Silaturahmi UKMF KRISTAL 2018

KEGIATAN BAKTI SOSIAL UKMF PENELITIAN KRISTAL

“Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan, janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak memerimanya bila kita mampu untuk melakukannya”



Minggu(11/02/2018) UKMF Penelitian KRISTAL FE UNY mengadakan kegiatan Bakti Sosial di Yayasan Panti Sayap Ibu jalan Ukrim RT. 07 / RW. 02, Purwomartani, Kalasan, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571.

Bakti Sosial ini diadakan dalam rangka Anniversary UKMF Penelitian KRISTAL yang ke-6. Kegiatan ini juga merupakan Program Kerja dari Departemen PSDM yang ada di UKMF Penelitian KRISTAL. Bakti Sosial ini merupakan wujud rasa kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan adanya kegiatan ini kita semua dapat merasakan bagaimana kehidupan sesama kita yang ada di lingkungan serta menjalin kekerabatan terhadap orang lain. Dari kegiatan ini kita tentu diajarkan banyak hal dan memiliki manfaat untuk dapat membuka hati nurani kita terhadap sesama. Yayasan Panti Sayap Ibu ini sebagai tempat berlindungnya anak-anak terlantar dan cacat ganda.

Kegiatan Bakti Sosial yang telah dilaksanakan ini, diharapkan dapat memberikan manfaat dan kesempatan bagi kita sebagai Mahasiswa/i untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan aktualisasi diri dalam membantu dan peduli terhadap sesama. Berbagi dengan adik-adik yang berkebutuhan khusus dan belajar lebih bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan selama ini. Karena tidak semua orang ingin dan mau untuk melakukan kegiatan Bakti Sosial dengan berbagai alasan. Untuk menumbuhkan rasa peduli itu tidaklah mudah dan atas dasar diri sendiri terlebih dari hati nurani pribadi masing-masing individu.

Kegiatan dibuka oleh pembawa acara dilanjutkan oleh Kata Sambutan dari Ketua UKMF Penelitian KRISTAL dan Pengurus Yayasan Panti Sayap Ibu. Dilanjutkan dengan tilawah yang dibacakan salah satu anggota pengurus UKMF Penelitian KRISTAL. Penyerahan bantuan yang diharapkan dapat membantu adik-adik kita yang ada di panti, berkenalan dengan adik-adik panti diselingi dengan menyanyi, menari dan mewarnai bersama dengan adik-adik panti. Acara dilanjutkan dengan makan bersama dan foto bersama. Ditutup dengan berpamitan kepada pihak panti. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan memberi banyak pelajaran yang mengesankan untuk seluruh Pengurus UKMF Penelitian KRISTAL akan kehidupan di lingkungan sekitar.



Yogyakarta, 12 Maret 2018
Share:

KRISTAL Development Program 2018

KRISTAL Development Program (KDP) UKMF Penelitian KRISTAL FE UNY 2018

Foto bersama seluruh peserta dan panitia KDP 

KRISTAL Development Program (KDP) merupakan suatu bentuk kegiatan pelatihan internal pengurus UKMF Penelitian KRISTAL dalam bidang penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah.  Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 3 Maret 2018 di ruang ramah tamah FE UNY dengan mengangkat tema “Menggali Potensi Diri Wujudkan UKMF Penelitian KRISTAL yang Inovatif dan Prestatif”. Selain dihadiri oleh pengurus UKMF Penelitian KRISTAL tahun 2018, acara ini juga dihadiri oleh bapak Andreas Mahendra Kuncoro selaku dosen pembimbing UKMF Penelitian KRISTAL. Rangkaian utama kegiatan KDP ini meliputi penyampaian materi mengenai penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah, bedah pamflet lomba esai Univeristas Negeri Jakarta (UNJ) dengan tema Inovasi Pendidikan, dilanjut dengan Forum Grub Discussion (FGD) yaitu brainstorming ide mengenai lomba esai tersebut.
Materi pertama mengenai penelitian disampaikan oleh Erna Fitriana (Wakil Ketua UKMF Penelitian KRISTAL 2017) yang memaparkan mengenai pengertian dan elemen-elemen penelitian, metode penelitian dan perbedaannya dengan metode penulisan, sharing mengenai judul-judul penelitian, tips dan trik lolos Student Union Grant (SUG) dan Penelitian Mahasiswa Fakultas Ekonomi (PMFE), serta prestasi yang pernah diraih dalam bidang penelitian. Sedangkan materi kedua disampaikan oleh Fajar Indra Prasetyo (Ketua UKMF Penelitian KRISTAL 2017) yang memaparkan mengenai pengertian dan elemen-elemen dalam karya tulis ilmiah, tips menggali ide yang unik dan kreatif, sharing mengenai judul-judul LKTI dan prestasi yang pernah diraih dalam bidang Karya Tulis Ilmiah, serta tips dan trik lolos LKTIN.

Penyampaian materi oleh Narasumber
Rangkaian acara selanjutnya yaitu bedah pamflet dari lomba esai yang diselenggarakan UNJ dengan tema Inovasi Pendidikan oleh departemen FORMASI (Forum Mahasiswa Ilmiah) yang dilanjut dengan Forum Grub Discussion. Dalam kegiatan FGD ini, peserta KDP yang hadir dibagi menjadi 4 kelompok, di mana setiap kelompok akan didampingi oleh seorang fasilitator. Kemudian, kelompok yang sudah ada dibagi menjadi kelompok kecil lagi beranggotakan 3 orang untuk melakukan brainstorming ide. Fasilitator akan memberikan tanggapan, masukan, dan saran terkait ide tiap kelompok. Sehingga dengan adanya KDP ini, diharapkan mampu meng-upgrade wawasan dan pengetahuan pengurus UKMF Penelitian KRISTAL dalam bidang penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah serta mampu mengaplikasikannya dalam kompetisi ilmiah baik dalam lingkup regional, nasional, maupun imternaional.

Yogyakarta, 03 Maret 2018
-Departemen P2KI-

Share:

Kamis, 08 Maret 2018

Forum Kajian Ilmiah KRISTAL (FORKIS) #2

“INOVASI PENDIDIKAN INDONESIA”


Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa invensi atau diskoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Tujuan dari inovasi pendidikan adalah memaksimalkan (efisiensi, efektivitas dan relevansi) segala kemampuan dalam bidang pendidikan seperti tenaga, uang, sarana prasarana.

Komponen pendidikan atau komponen system sosial yang memungkinkan untuk dilakukan suatu inovasi adalah pembinaan personalia, banyaknya personalia dan wilayah kerja, fasilitas fisik, penggunaan waktu, perumusan tujuan, peran yang diperlukan, wawasan dan perasaan, bentuk hubungan antar bagian, dan strategi. Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah pendidik, peserta didik, kurikulum, fasilitas, dan program atau tujuan. Dalam inovasi pendidikan secara umum dapat dibedakan menjadi 3 model inovasi yang baru yaitu :
1.      TOP DOWN
Top Down Innovation adalah salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan efisiensi waktu dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa top down innovation sama halnya dengan pendidikan yang otoriter. Pendidikan ini sering dinilai buruk, namun sebenarnya ada kebaikan didalamnya. Terkadang harus ada penekanan dari pendidik untuk dijadikan sebuah tempaan bagi para peserta didik agar mereka dapat berkembang meskipun perkembangan manusia memang sangat bergantung pada motivasi dari dirinya sendiri. Namun demikian,  kebanyakaan manusia cenderung akan lebih banyak mendapatkan hambatan jika harus berjuang sendirian.
2.      BOTTOM UP
                Model bottom up innovation sangat baik kita terapkan dalam pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada model bottom up innovation ini seorang pendidik lebih bebas dalam mengeluarkan suatu pendapat atau ide-ide yang cemerlang. Di sisi lain pendidik dapat lebih kreatif dalam pembelajaran di kelas, sehingga proses pembelajaran di kelas berlangsung dengan baik dan tidak monoton serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh pendidik.
3.      QUANTUM LEARNING
                Quantum learning adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada pemberian sugesti dan dituntut mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan serta efektif. Quantum learning dapat memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal dan dibarengi dengan kegembiraan.


Pengembangan Media Pembelajaran
Media Pembelajaran diartikan segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan pembelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Pengertian media pembelajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan untuk membantu menyampaikan materi pelajaran dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan. Dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di instansi pendidikan pada khususnya. Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran.  Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai. Aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan peserta didik kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik peserta didik. Jadi, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh pendidik.

Metode dan Strategi Pembelajaran
Metode Pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya. Strategi pembelajaran adalah seperangkat     kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menetukan warna atau strategi tersebut, yaitu :
1.      Pemilihan materi pelajaran  (pendidik atau peserta didik)
2.      Penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok, atau belajar mandiri)
3.      Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal)
4.      Sasaran penerima materi pelajaran ( kelompok,   perorangan, heterogen, atau  homogen.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Jenis-jenis metode pembelajaran antara lain:
1.      Metode pembelajaran ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, pendidik dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2.      Metode pembelajaran diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka.
3.      Metode pembelajaran demontrasi
Metode pembelajaran demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong peserta didik mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana cara mengaturnya?; bagaimana proses bekerjanya?; bagaimana proses mengerjakannya?. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang pendidik atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang peserta didik memperlihatkan sesuatau proses  kepada seluruh kelas.
4.      Metode Pembelajaran Ceramah Plus
Metode pembelajaran ceramah plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya.
5.      Metode pembelajaran eksperimental
Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana peserta didik melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
6.      Metode Pembelajaran Resitasi
Metode pembelajaran resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan peserta didik membuat resume.

Share:

Jam

Anda Pengunjung Ke-