DEBAT ISU EKONOMI NASIONAL 2018

Peningkatan Peran Pemuda dalam Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Guna Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Berkelanjutan

Call for Essay PPKTI 2018

Ideku untuk Negeri Tercinta

Buka Bersama dan Silatponi

Rajut Ukhuwah Aktivis Kampus dalam Balutan Bulan Ramadhan Bersama DPO dan Alumni KRISTAL

INNOVATION CONTEST 2018

KRISTAL Sukses Mewadahi Inovasi dan Kreativitas Mahasiswa Indonesia

Kamis, 09 Mei 2019

DIKMA#3 PRODUKSI PANGAN MENURUN, PERLUKAH MENYALAHKAN KONVERSI LAHAN?



Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data pertumbuhan produksi pangan melambat. Hal ini pun mengakibatkan Indonesia berisiko ketergantungan impor.
Tercatat, selama empat tahun berturut-turut pertumbuhan PDB tanaman pangan mengalami perlambatan dari 4,32% di tahun 2015, 2,57% di tahun 2016, 2,31% di tahun 2017, hingga 1,48% di tahun 2018. Bila kondisi itu berlanjut hingga 5 tahun ke depan, maka bisa mengakibatkan RI jadi ketergantungan impor. Pada tahun 2018, bahkan impor beras mencapai 2,25 juta ton atau menjadi yang terbesar sejak tahun 2011.
Penyebab dari produksi pangan menurun ini karena salah satunya berupa konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian/industri. Ada yang beranggapan dari sudut pandang bidang pertanian, bahwa konversi lahan ini tidak hanya diubah ke sektor industri, tapi banyak yang ke sektor pariwisata. Jika dilihat saat ini banyak lahan di pegunungan yang beralih menjadi objek wisata yang mana menyebabkan lahan pertanian pada bagian tanah menjadi kekurangan air. Hal ini tentu membuat produksi pangan menurun dan menjadi kurang subur. Namun, ada juga yang berspekulasi bahwa hal ini tidak disebabkan dari konversi lahan, justru dari rantai produksi beras yang siklus pendistribusian yang tidak merata ke setiap wilayah Indonesia dari petani dan tengkulak. Hal ini terkait tingginya harga di pasaran dari pada harga petani langsung itu sendiri.
Di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa konversi lahan menjadi sektor non-pertanian ini justru membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya. Sekarang ini banyak bermunculan industri pabrik yang membutuhkan banyak SDM, sehingga dampak kesejahteraan ekonomi masyarakat kian meningkat. Pada akhirnya produksi pangan menurun ini menimbulkan 2 sisi negatif dan positif dengan segala dampaknya.
Sebagai mahasiswa, hal ini sangat baik untuk dikritisi mengingat pengaruhnya terhadap perekonomian negara. Dengan solusi berupa kontrol pada pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Sebagai masyarakat yang bijaksana sudah saatnya sadar akan pentingnya menjaga lahan pertanian untuk tidak diubah ke sektor lain demi keberlangsungan pangan Indonesia. Dalam hal ini pemerintah juga turut memberikan penguatan regulasi berupa peraturan penjualan lahan yang seharusnya dikembangkan menjadi sektor pertanian. Ke depan, Indonesia tidak hanya mendapat julukan “Negara Agraris”, namun juga bertanggung jawab atas kekayaan tersebut supaya dapat dikelola dengan optimal guna kesejateraan rakyat Indonesia.

Referensi:
Puti, Yasmin. 2019. Tiap Tahun Produksi Pangan RI Turun Terus. Artikel diunduh dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4520268/tiap-tahun-produksi-pangan-ri-turun-terus.
Yanita, Patriella. 2016. Ini Penyebab Mengapa Saat Ini Indonesia Sulit Swasembada Pangan. Artikel ini diunduh dari https://kalimantan.bisnis.com/read/20160923/408/586674/ini-penyebab-mengapa-saat-ini-indonesia-sulit-swasembada-pangan

Sri, Lestari. 2017. Sawah beralih jadi perumahan atau industri mengancam ketahanan pangan. Artikel ini diunduh dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41078646

 

Dani, Prabowo. 2018. Setiap Tahun, 200.000 Hektar Lahan Sawah Menyusut. Artikel ini diunduh dari https://properti.kompas.com/read/2018/04/11/160000321/setiap-tahun-200000-hektar-lahan-sawah-menyusut


Share:

Jam

Anda Pengunjung Ke-