Rabu, 25 April 2018

POLEMIK PROGRAM STUDENT LOAN


DIKMA #4
POLEMIK PROGRAM STUDENT LOAN


              Pemerintah baru saja mewacanakan peluncuran program kredit pendidikan bagi mahasiswa S1 hingga S3. Program ini bertujuan untuk mengubah mindset masyarakat terhadap pinjaman yang awalnya untuk konsumtif dialokasikan ke investasi melalui pendidikan. Bersama dengan perbankan, pemerintah memberi kredit maksimal 200 juta selama lima tahun yang biasa disebut dengan student loan. Program ini menimbulkan impact postif dan negatif dalam bidang pendidikan maupun ekonomi dan juga menimbulkan berbagai reaksi dari mahasiswa. Berikut adalah pembahasan secara rinci dampak program student loan serta pro-kontra terhadap usulan program ini.
              Indonesia sudah pernah menjalankan program student loan di tahun 1980-an lalu. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir yang menjadi salah satu penerima student loan menceritakan bahwa program itu efektif membantu mahasiswa tingkat akhir yang sudah tidak dibiayai oleh orangtuanya. Pemberian student loan akan membantu meringankan beban orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya karena zaman sekarang biaya pendidikan itu sangat mahal.Terlebih pendidikan merupakan kebutuhan dasar. Pendidikan sangat penting utuk meningkatkan kompetensi dalam persaingan terlebih di era MEA dan globalisasi. Selain itu, dengan adanya pinjaman pendidikan akan menciptakan lulusan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi, karena student loan akan motivasi mahasiswa untuk belajar serta bertanggungjawab terhadap uang yang dipinjamkan.
              Pada tahun 2050 Indonesia akan mengalami bonus demografi yang artinya semakin banyak usia produktif yang akan menempuh pendidikan tinggi. Namun, dana dari APBN sejumlah 20% tersebut tidak mampu mengakomodasi biaya pendidikan tersebut. Berdasarkan survei oleh Higher Education Leadership and Management tahun 2012 mereka mengemukakan sumber pendapatan mayoritas mahasiswa dari orang tua sebesar 88,16 persen dan beasiswa 4,6 persen. Jika kebutuhan biaya kuliah sudah tidak sanggup dibayar maka orang tua akan melakukan pinjaman dengan presentase meminjam saudara adalah 32%, bank 28%, dan pegadaian 13%. Jika dibandingkan besaran bunga antara student loan dengan pinjaman bank cukup jauh, bunga student loan sekitar 6,5% sedangkan perbankan bisa mencapai 9%.
              Disisi lain, jika mahasiswa menggunakan student loan, nantinya setelah lulus para mahasiswa diharuskan membayar seluruh utang termasuk bunganya. Hal ini akan menekan mahasiswa yang lulus dengan keharusan membayar utang dalam jumlah banyak. Beruntung jika mahasiswa tersebut mendapat pekerjaan yang layak, bagaimana jika para sarjana tersebut justru menganggur karena lapangan kerja yang ada sangat sedikit dan yang mendaftar sangat banyak. Walaupun saat ini pemerintah sedang menggalakkan UMKM yang terus bertambah, tetapi kebanyakan UMKM masih rintisan dan skalanya pun tidak besar sehingga rekrutmen pekerja juga masih kecil jumlahnya. Selain itu terdapat pekerja asing yang juga meramaikan persaingan kerja di Indonesia. Para lulusan tersebut akan terlilit hutang yang semakin banyak dan bisa terjadi kredit macet.
              Student Loan dapat mengindikasikan pemerintah melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyat. Dengan Student Loan dari perbankan yang menggunakan sistem bunga, hubungan pemimpin dengan rakyat seolah-olah seperti hubungan pedagang dan pembeli, yang berlaku adalah prinsip hitung dagang bukan pengurusan. Menurut pandangan agama terutama islam, pendidikan adalah hak kolektif rakyat yang wajib dipenuhi oleh para pemimpin (terdapat dalam hadist riwayat bukhari-muslim). Selain itu dilihat dari sisi bunga yang digunakan program student loan mengandung riba yang haram. Student loan juga melanggar prinsip suka sama suka dalam transaksi atau perjanjian, diperbolehkan bank mengambil untung dalam memberikan bantuan pembiayaan, namun dari akad-nya harus dilakukan atas kesepakatan kedua pihak di awal, tidak bertambah terus menerus juga tidak langsung dipatok 6,5%.
Berdasarkan data, student loan telah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Jepang dan Selandia Baru. Jika dilihat student loan diterapkan di negara-negara maju baik ekonomi maupun pendidikan. Berdasar survei Chapman dan Lounkaew menunjukkan bahwa perbandingan tingkat gagal bayar pada empat negara yaitu: Amerika Serikat, Kanada, Thailand, dan Malaysia, menunjukkan persentase masing-masing 14,7%, 13%, 53% dan 49%. Di Amerika Serikat (AS) sendiri, peningkatan anggaran student loan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dalam laporan The Fed New York, pada akhir 2017, pinjaman pendidikan di AS sudah mencapai US$ 1,38 triliun atau setara 17.888 triliun rupiah. Dimana 11% diantaranya mengalami penunggakan pembayaran cicilan hingga 90 hari dan ada beberapa yang lebih lama lagi.
              Berdasarkan banyak sisi positif dan negatif di atas, penerapan student loan perlu dikaji lagi lebih dalam dari berbagai sisi, mulai dari ekonomi, pendidikan, psikologis mahasiswa, serta faktor lainnya. Salah satu hal yang perlu dikaji mengenai kerjasama penerapan pinjaman pendidikan dengan perbankan, sebab Indenesia merupakan negara dengan perekonomian kerakyatan bukan kapitalis. Jika pendidikan yang merupakan hak dasar dikendaikan oleh swasta maka pendidikan nantinya dikhawatirkan akan menjadi lahan untuk memperoleh laba. Perlu pula kesiapan penyediaan lapangan kerja yang mencukupi, agar tidak ada kredit macet yang memberatkan mahasiswa.

Sumber :
Ardiansyah,M.2018. Student Loan Menakar Pendidikan dengan Hitung Dagang, diakses 16 April 2018 pukul 21.00 WIB pada https://www.islampos.com/
Malia,Indiana.2018. Kredit Pendidikan Jadi 'Jebakan' Mahasiswa? Ini Kata Pakar Pendidikan, diakses 16 April 2018 pukul 21.00WIB pada https://news.idntimes.com/
Sebayang, Rehia.2018. The Fed: 'Student Loan' Bisa Hambat Pertumbuhan Ekonomi, diakses 19 April 2018 pada https://www.cnbcindonesia.com/
Putera, Andri Donnal. 2018. Ini Kriteria Penerima "Student Loan" yang Disarankan Perencana Keuangan, diakses 19 April 2018 pada https://ekonomi.kompas.com/
Putera, Andri Donnal. 2018. Soal "Student Loan", Ini Kata Perencana Keuangan, diakses 19 April 2018 pada https://ekonomi.kompas.com/
Fadzilah, Fara Fahira Dwi. 2018. STUDENT LOAN SEBAGAI PRODUK INDUSTRI PENDIDIKAN KAPITAL, diakses 24 April 2018 pukul 07.20WIB pada https://himahiunhas.org/
Redaktur Kompasiana. 2018. Sistem Pinjaman Pendidikan (Student Loan), Tidak Cocok untuk Indonesia?, diakses 24 April 2018 pukul 07.20WIB pada https://www.kompasiana.com/




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Jam

Anda Pengunjung Ke-